Senin, 20 Januari 2014 - 14:15:22 WIB
AGRICULTURE IN TRANSITION Perubahan Paradigma dalam Pengembangan Pertanian
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Artikel - Dibaca: 18170 kali

 

 

Kemampuan sektor pertanian untuk mencukupi kebutuhan pangan dunia, masih menjadi perdebatan di dunia internasional.  Bagi kalangan yang pro terhadap pertanian konvensional, mereka akan mempertanyakan “mampukan pertanian organic mencukupi kebutuhan pangan dunia?”.  Sebaliknya, bagi kalangan yang pro terhadap pertanian organik akan mempertanyakan pula “mampukan pertanian konvensional memenuhi kebutuhan pangan dunia?”.  Menurut Tittonell (2013), pertanyaan yang tepat adalah “mengapa pertanian konvensional gagal mencukupi kebutuhan pangan dunia?”.  Menurutnya, empat permasalahan dasar penyebab kegagalan pertanian konvensional untuk mencukupi kebutuhan pangan dunia adalah :

  1. Di seluruh dunia, bahan pangan tidak diproduksi di daerah dimana sebagian besar konsumen berada.
  2. Tidak semua petani dapat menjangkau bahan kimia, sumber daya genetik dan input energi yang diperlukan dalam pertanian konvensional.
  3. Trend dan kebiasaan pola makan tidak sesuai dengan kelestarian ketersediaan sumber daya alam secara global.
  4. Rantai pemasaran tidak efektif menjamin akses pangan untuk semua orang dan justru menimbulkan limbah pangan.

Untuk itu sistem pertanian harus didesain untuk dapat memproduksi bahan pangan yang mencukupi kebutuhan dunia, baik melalui sistem pertanian konvensional, organik maupun sistem lainnya di antara dua sistem tersebut.

 Dengan latar belakang seperti itu, Centre for Development Innovation (CDI) – Wageningen University menyelenggarakan pelatihan “Agriculture in Transition” dengan tema “between tradition, innovation and visioning : building new models for the future” pada tanggal 13 hingga 24 Mei 2013 di Wageningen, Belanda.  Melalui beasiswa yang diperoleh dari Netherlands Fellowship Programme (NFP), penulis berkesempatan mengikuti pelatihan tersebut.

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan professional peserta di bidang pertanian melalui (1) peningkatan pemahaman yang lebih mendalam terhadap perubahan dunia yang mempengaruhi pertanian dan kebijakannya di tingkat daerah dan nasional, (2) penggunaan berbagai sarana (tools) dan teknik untuk menganalisis sistem pertanian di Negaranya masing-masing dan mengidentifikasi isu-isu penting untuk perubahan, (3) membuat skenario dengan berbagai alternatif pilihan dan menentukan prioritas pada kondisi yang kurang menguntungkan, menggunakan metode pendekatan teori dan praktek, dan (4) mendesain jalur transisi untuk memperkenalkan intervensi pertanian inovatif yang memiliki keseimbangan secara sosial, ekonomi dan ekologi.

Materi pelatihan merupakan kombinasi dari kuliah, kunjungan lapang, kerja kelompok, tugas perorangan dan presentasi.  Pelatihan ini merupakan proyek percobaan penggunaan tablet (memopad) untuk menggantikan cetakan materi pada kertas (paperless) dalam rangka mendukung program kelestarian lingkungan.  Peserta pelatihan berjumlah 32 orang berasal dari 17 negara yaitu Indonesia, Brazil, Eritrea, Ethiopia, Ghana, Guatemala, India, Iran, Kenya, Macedonia, Mozambik, Nigeria, Rwanda, Sudan, Thailand, Uganda dan Zimbabwe (foto grup peserta pelatihan pada Gambar 1).  Materi disampaikan oleh tim dari CDI dan Universitas Wageningen yaitu Prof. Pablo Tittonell, Dr. Hans Schiere (koordinator), Dr. Walter Rossing, Dr. Felix Bianchi, Dr. Katrien van’t Hooft, Dr. Diego Valbuena Vargas, Dr. Co Verdaas dan Alberto Giani, M.Sc (koordinator).

Secara ringkas materi yang disampaikan adalah sebagai berikut :

 

  1. Global trends in agriculture and society

Beberapa trend dunia menyebabkan perlunya penyesuaian dalam prinsip dan praktek pertanian dan kehidupan sosial.  Trend tersebut antara lain :

  1. Harga bahan pangan yang semakin mahal.  Penyediaan bahan pangan bersaing dengan penggunaannya untuk biofuel.
  2. Pertumbuhan populasi yang tinggi, menyebabkan kebutuhan pangan meningkat 75% untuk serealia dan 200% untuk daging.
  3. Perubahan iklim, mempengaruhi produksi, ketersediaan air, bencana alam, ketahanan pangan, hama dan penyakit dan lain sebagainya.
  4. Pertumbuhan ekonomi dunia semakin melambat, tetapi perdagangan selatan-selatan dan kerjasama semakin meningkat.
  5. Krisis ketersediaan air di beberapa wilayah.
  6. Globalisasi, menyebabkan penyediaan makanan memerlukan transportasi, yang berarti dibutuhkan waktu dan bahan bakar.
  7. Dana pertanian yang disediakan di sebagian besar negara mengalami peningkatan sejak tahun 2005 setelah pada dekade sebelumnya mengalami penurunan.
  8. Ketersediaan sumber daya alam mulai terbatas, tetapi pertanian banyak membutuhkan dan menggunakan sumber daya tersebut.
  9. Pemilihan prioritas penggunaan lahan, antara kebutuhan untuk pertanian dan untuk pemukiman.
  10. Sampah yang semakin bertambah.
  11. Kesadaran konsumen tentang kelestarian lingkungan.

 

  1. Agro-ecosystem and Farming system (FS) analysis

Sebuah sistem memiliki batasan (boundary), komponen, input, output, dan hubungan antar komponen dalam sistem yang dianalisis. Sistem pertanian (agro-ecosystem) memiliki beberapa dimensi (fisik, sosial, budaya), dibentuk oleh proses alami, dipengaruhi oleh manajemen dan perancanaan dan definisinya tergantung pada pertanyaan yang diajukan.

Sifat dari sistem yang dianalisis adalah dinamik (ada indicator waktu, target), efficiency (output dibandingkan input), diversity (keragaman komponen), stability (kestabilan terhadap perubahan dalam sistem tersebut pada suatu batas tertentu), reliability (ketahanan terhadap perubahan yang disebabkan faktor eksternal), resilience (kemampuan untuk kembali ke kondisi stabil apabila ada faktor eksternal ekstrim yang menyebabkan perubahan) dan adaptability (kemampuan beradaptasi apabila faktor eksternal berubah).

 

  1. Co-innovation approach

Co-innovation menunjukkan bahwa inovasi membutuhkan usaha bersama antar stakeholders. Sebuah proyek inovasi terdiri dari agen (pelaksana), artefak (bahan dan alat), strategi (metode) dan intervensi yang diperlukan.  Inovasi dikendalikan oleh ‘learning selection’.  Sebuah proyek dibuat dengan tujuan tertentu yang dibatasi dalam waktu tertentu.  Konsekuensi dari adanya proyek adalah pengembangan agen, artefak dan strategi, perlunya stimulasi untuk adanya perubahan dalam pola interaksi (misalnya daripada petani menunggu intruksi maka petani distimulasi untuk memiliki inisiatif untuk menyampaikan perubahan) dan dukungan untuk mempermudah akses ke hal baru.

Dalam menyusun sebuah proyek perlu direncanakan untuk berubah dan bukan merubah rencana.  Hal ini berarti sebaiknya hambatan-hambatan dapat dikenali sejak awal.

 

  1. Endogenous development

Kisah pengembangan peternakan sapi perah di Belanda yang dapat dijadikan pelajaran.  Pada tahun 50-60-an peternakan sapi perah mendapat perhatian sangat besar dari pemerintah sehingga dilakukan perbesaran skala usaha dan instensifikasi, mempermudah petani memperoleh modal usaha, adanya proteksi pasar dengan harga tetap, adanya dukungan terhadap pendidikan lanjutan dan penelitian, program yang terkendali seperti kebijakan pemuliaan sapi, menambah lahan pertanian dengan membuat daratan tambahan dan mekanisasi pertanian, bantuan dan subsidi obat-obatan yang terus meningkat.  Akibatnya produksi susu sangat melimpah, kotoran hewan juga sangat melimpah, pakan ternak berubah menjadi tinggi protein dan rendah serat sehingga menurunkan mutu kotoran.  Jenis baru kotoran ini menurunkan kesuburan tanah dan mutu air tanah sehingga efisiensi pertanian mulai menurun.  Belanda mengalami masalah karena produksi meningkat tetapi pendapatan petani menurun.

Menghadapi hal demikian para petani mengambil langkah yang berbeda-beda, misalnya :

  1. Berhenti menjadi petani.  Jika dibandingkan kondisi tahun 60-an, maka jumlah petani di Belanda sekarang berkurang 90%.
  2. Pindah bertani ke Negara lain yang lebih menguntungkan.
  3. Memperbesar skala usaha dan memodernisasi (mekanisasi, milkrobot).  Pemerintah meningkatkan pengetahuan petani dengan melalui pengalaman dan didukung oleh penelitian yang memadai. Varietas lokal mulai dikembangkan kembali.
  4. Menganekaragamkan sumber pendapatan. Pertanian tidak hanya untuk produksi tetapi juga digunakan untuk tempat wisata, menyalurkan hobby dan perawatan anak-anak dengan kebutuhan khusus atau orang jompo.  Petani juga mulai melakukan ‘direct marketing’ yang akan memperpendek jalur distribusi.
  5. Meningkatkan kesuburan tanah dan menurunkan biaya produksi. Membangun kembali hubungan tanaman-ternak.
  6. Menerapkan pertanian rendah input. Petani lebih fokus pada optimasi dibandingkan maksimalisasi produksi per tahun.  Pengurangan penggunaan antibiotik sintetik.  Daripada mengobati ternak yang sakit, maka lebih diusahakan memiliki ternak yang selalu sehat.

 

  1. Emerging livestock diseases

Perubahan iklim mempengaruhi kesehatan melalui beberapa cara.  Salah satu yang paling penting adalah melalui infeksi yang dibawa oleh virus.  Pencegahan lebih baik daripada mengobati, sehingga kontrol penyakit dilakukan melalui sistem peringatan dini, pelayanan kesehatan hewan, vaksinasi, peningkatan kapasitas kelembagaan, intervensi yang disesuaikan kondisi setempat, cara budidaya yang benar, strategi yang mampu beradaptasi dengan baik, asuransi dan pengaturan waktu dan/atau jarak.

 

  1. Agriculture in an urbanizing society

Urbanisasi menyebabkan berbagai perubahan antara lain jenis pekerjaan, transportasi bahan pangan, pola makan dan sampah.  Desa sebagai tempat produksi bahan pangan harus mampu menyediakan sumber makanan bagi penduduk kota.  Hal ini menyebabkan diperlukannya transportasi dan pengolahan bahan pangan yang meningkatkan penggunaan bahan bakar minyak sehingga menciptakan polusi.  Pengemasan bahan pangan merupakan salah satu sumber sampah. Urbanisasi baik secara langsung maupun tidak langsung juga mengakibatkan perubahan penggunaan lahan, iklim, kualitas dan kuantitas air, kesejahteraan ternak, migrasi, kelainan gizi,  keanekaragaman hayati, energy dan tenaga kerja.

Untuk mengatasi efek negatif dari urbanisasi ini diperlukan pertanian yang berkelanjutan seperti :

  1. Produksi yang berkelanjutan (pertanian organik, konservasi, rendah input).
  2. Memasukan biaya ‘akibat’ ke dalam perencanaan dan anggaran sehingga menjadi tanggung jawab produsen.
  3. Menciptakan alternatif jaringan bahan pangan.
  4. Pasar yang berkelanjutan.
  5. Mengembangkan sumber pangan lokal.
  6. Merubah budaya makan (yang buruk) melalui pendidikan.
  7. Sistem penyediaan bahan pangan di sekitar rumah.

 

  1. Social-ecological system

Sistem yang terdiri dari komponen ekologi dan sosial.  Komponen proses seperti penurunan jumlah hutan (deforestation), intensifikasi pertanian berkelanjutan, manajemen sumber daya alam, peningkatan kesuburan tanah dan peningkatan ekosistem.  Komponen yang menjadi batasan seperti hal-hal yang secara alami sudah ada dalam sistem, faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi dan skala sistem. Indikator yang perlu diperhatikan yang terkait dengan proses, relevan, sesuai dengan skala sistem, melengkapi sistem dan sesuai dengan fungsi.

Sistem ekologi-sosial merupakan sistem yang kompleks di luar pertanian itu sendiri.  Sistem ini harus diperhitungkan ketika akan memutuskan suatu tindakan atau pengembangan atau kebijakan terhadap suatu sistem pertanian.

 

  1. Agent-based model

Dalam perencanaan proyek yang terkait dengan sistem ekologi sosial, dibutuhkan alat pemodelan.  Pemodelan berdasarkan program komputer merupakan alat pemodelan yang menyederhanakan permasalahan, mudah dimengerti,  merupakan simulasi, dapat dieksplore dan mudah dikomunikasikan.  Banyak program yang telah tersedia untuk model berdasarkan agen seperti NetLogo, repast, Swarm, Cormas, MadKit dsb. Misalnya untuk memperkirakan pergerakan penduduk, hewan ternak atau obyek berjalan lainnya terhadap penerapan suatu sistem untuk menangani epidemiologi, lalu lintas, jaringan sosial, manajemen sumber daya alam, perubahan penggunaan lahan dsb.  Atau model untuk membuat suatu keputusan sesuai dengan sifat asli sistem yang digunakan, menentukan aktif-reaktif, penerapan pengetahuan untuk diadaptasi dan dipelajari dan hubungan antara agen dengan lingkungannya.

 

  1. Re-design of landscapes for pest suppression

Hama menjadi masalah dalam budidaya pertanian karena kurangnya keragaman hayati pada berbagai skala, penggunaan pupuk dan obat-obatan kimia,  terbatasnya sumber musuh alami dan gangguan tertentu. Penanganan hama dapat menggunakan musuh alami yang biasanya disediakan oleh bukan tanaman budidaya yang ditanam sebagai tanaman ‘intercropping’ (Gambar 2) atau oleh tanaman jenis lain seperti menanam gandum di antara jagung, tanaman bunga dan ’seedmixture’ sebagai batas area (Gambar 3) atau perbedaan lansekap yang sengaja dibuat dan ditanami tanaman yang berbeda.

Untuk mendesain ulang lansekap agar dapat menekan perkembangan hama maka perlu diinventarisir tanaman dan sumberdaya alami pada lansekap tsb, memetakan potensi ekosistem, simulasi distribusi ekosistem, interaksi antar stakeholder, mengumpulkan permasalahan dan pendapat, menyusun intervensi yang perlu diberikan oleh setiao stakeholder sesuai dengan tujuannya dan evaluasi kompatibilitas ekosistem.  Sebagai output akhir yang diharapkan adalah lansekap yang ideal sesuai dengan ekosistem dan tujuan para stakeholder.

 

  1. Field Trips
  1. Pertanian terpadu untuk produksi dengan sistem pemasaran secara langsung, untuk penitipan orang jompo dan anak-anak dengan kebutuhan khusus (autis) di Care-farm ‘t Paradijs, Barneveld.
  2. Peternakan konvensional yang mementingkan pemeliharaan kesuburan tanah, De Boerenstee, Woudenberg.
  3. Pertanian organik dengan sistem mekanisasi, Groote Veenen, Lunteren.
  4. Produksi bir Gulpener dari pertanaman barley lokal untuk dipasarkan secara lokal pula di Brewery, Gulpen.  Konsumen diajak menanam, merawat, melihat proses produksi dan menikmati bir sebagai hasil kerja keras bersama
  5. Bisnis pengumpulan hasil pertanian dari petani langsung untuk dipasarkan secara international (Fair Trade) di Culemborg dan khusus lokal (Willem & Dress) di Cothen, memotong rantai distribusi.

 

  1. Project proposal

Dalam pelatihan ini setiap peserta ditugaskan untuk membuat satu proposal kegiatan dan dipresentasikan di kelas.  Pembuatan proposal tersebut dilakukan setahap demi setahap.  Setiap selesai satu tahapan, hasil pekerjaan di tempelkan di dinding, sehingga di akhir tugas tersusunlah satu proposal lengkap untuk setiap peserta (32 proposal). Urutan penyusunan proposal adalah sebagai berikut:

  1. Membuat judul proposal, menentukan pelaksana, sasaran (untuk siapa), waktu yang dibutuhkan, sumber daya yang sudah ada.
  2. Membuat ‘Rich picture’ yang menggambarkan minimal 10 komponen dalam suatu system yang menjadi domain proposal dan menunjukkan hubungan antar elemen dalam system tersebut.
  3. Membuat gambar ‘transect’ menurut waktu atau ruang.  Gambar transect menurut waktu menggambarkan perubahan dalam system per satuan waktu, sedangkan gambar transect menurut ruang menggambarkan perubahan tipe pertanian dan kehidupan sosial sesuai dengan topografi.
  4. Menganalisis ulang perlu tidaknnya memperbaiki judul proposal.
  5. Menyusun 7 strategi yang dapat saling menggantikan untuk melaksanakan proposal tersebut.
  6. Mengurutkan 7 strategi tersebut dari yang paling mungkin diterapkan hingga yang paling tidak mungkin.
  7. Membuat analisis SWOT untuk setiap strategi yang dibuat.  Analisis SWOT dimodifikasi dengan hanya memperhitungkan aspek positif dan negative.
  8. Menyusun tindakan yang dapat diambil untuk mengatasi hal negative hasil analisis SWOT yang dimodifikasi.

 

Proposal yang disusun penulis berjudul Pengembangan Sistem Sertifikasi Benih untuk Mendukung Ketahanan Pangan.  Latar belakang diambilnya topik ini adalah kenyataan bahwa pemenuhan benih di Indonesia diperoleh dari dua sistem yaitu formal dan informal.  Sistem informal menyediakan lebih banyak dibandingkan sistem formal, tetapi sistem informal tidak diakui karena melanggar UU 12 tahun 1992 (tentang Sistem Budidaya Tanaman) yang mewajibkan benih yang beredar harus disertifikasi.

Untuk terciptanya ketahanan pangan, produksi bahan pangan harus sesuai dengan jumlah penduduk sehingga benih yang tersedia harus sesuai pula dengan produksi yang direncanakan.  Penyediaan benih dari sistem informal tetap memiliki kontribusi yang tinggi.  Oleh karena itu, sistem ini harus diakui melalui perubahan dalam UU 12 tahun 1992.

Selanjutnya, untuk memperoleh jaminan mutu dari sistem informal, perlu dikembangkan sistem yang sederhana yang hanya melibatkan suatu komunitas kecil tempat dimana benih tersebut akan beredar secara lokal (di suatu komunitas desa, misalnya).  Satu atau beberapa petani penangkar di setiap desa yang mampu menyediakan benih bagi desa tersebut hanya perlu menggunakan sistem jaminan mutu yang sederhana tetapi dapat diterima oleh semua anggota komunitas tersebut.  Intinya, jika setiap desa mampu memenuhi kebutuhan benihnya sendiri, maka tepat varietas, tepat mutu, tepat waktu, tepat jumlah dan tepat tempat akan tercapai.

Direktorat Perbenihan dan Balai Besar PPMB-TPH menciptakan sistem jaminan mutu benih yang sederhana, dilanjutkan oleh BPSB dan PPL setempat yang memberikan bimbingan dalam menerapkan sistem jaminan mutu yang sederhana tersebut.

 

Di akhir pelatihan, setelah proposal dipresentasikan, setiap peserta diberikan poin.  Peserta dengan poin tertinggi dianggap memiliki kontribusi, kemampuan dan perkembangan yang sesuai dengan tujuan pelatihan.  Proposal yang diajukan penulis dinilai realistis, mampu menunjukkan sistem yang ada, tujuan proposal sesuai dengan yang dibutuhkan, transect mudah dimengerti, strategi dan tujuan terhubung dan dapat merencanakan tindakan untuk menangani aspek negatif pada analisis SWOT.  Untuk itu penulis diberi poin 3 di urutan ke-4 dari 6 poin tertinggi (Gambar 4). 

      

Penulis: Dina (Pengawas Benih Tanaman Balai Besar PPMB-TPH)



Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)