Kamis, 07 September 2017 - 09:26:11 WIB
Menuju Era Data Pangan Berkualitas
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Berita - Dibaca: 721 kali

Upaya penyempurnaan data statistik  pangan menurut Bapenas, telah menjadi tuntutan publik, perhatian lembaga-lembaga kerjasama internasional, serta menjadi arahan kebijakan pemerintah, sehingga penyempurnaan data statistik  pangan menjadi salah satu kegiatan prioritas pembangunan dari prioritas ketahanan pangan sejak tahun 2015. 

Sistem pangan mencakup banyak aspek dan pelaku, sehingga partisipasi seluruh pelaku sangat penting dalam penyediaan dan penyempurnaan data statistik pangan. Akurasi data statistik sangat krusial tidak hanya bagi pemerintah dalam perumusan kebijakan, perencanaan dan penganggaran, tetapi juga bagi swasta dan masyarakat untuk menjalankan business process-nya. Untuk itu Badan Pusat Statistik (BPS) telah berusaha sejak Tahun 2015 membenahi pengumpulan dan pengelolaan data untuk mendapatkan data yang akurat dan sinkron. 

Proses pengumpulan data selama ini yang dilaksanakan oleh BPS, menggunakan metode  perhitungan produksi tanaman pangan yaitu:

  1. Untuk data luas panen  (ha) menggunakan: pendekatan area (kecamatan), yang dikumpulkan oleh Mantri Tani/KCD /PPL (petugas Dinas Pertanian Kabupaten/Kota), dengan frekuensi pengumpulan data bulanan  dan  metode estimasi (system blok pengairan, penggunaan benih, dan eyes estimate)
  2. Data produktivitas (ku/ha): Dikumpulkan melalui survei ubinan melalui pendekatan rumah tangga yang mengusahakan tanaman pangan dimana pengukuran dilakukan oleh petugas BPS Kab/Kota (KSK) dan Petugas Dinas Pertanian Kabupaten/Kota (Mantri Tani/KCD/PPL). Frekuensi pengumpulan data caturwulan/subround dan pengukuran produksi tanaman pangan menggunakan alat ubinan. Untuk satu plot berukuran 2,5 x 2,5 m. Hasilnya untuk estimasi produksi per hektar. 
  3. Produksi  (Luas panen x Produktivitas):

    Perhitungan dilakukan setiap subround yang meliputi:   level penyajian hingga tingkat Kab./Kota, angka provinsi (merupakan kompilasi angka Kabupaten/Kota) dan angka Nasional (merupakan kompilasi angka provinsi). Dengan catatan 50 % sampel diubin oleh BPS dan 50% lagi diubin oleh petugas Dinas Pertanian.  Angka produktivitas provinsi dan nasional merupakan hasil bagi produksi terhadap luas panen.

Masalah pengolahan data tanaman pangan yang dihadapi antara lain adalah: a) pengumpulan dataeyes estimate merupakan pengukuran yang subyektif, solusinya membutuhkan kerangka sampel area minimal 8 sampel; b)  Metode ubinan 2,5 x 2,5 m untuk mengukur produktivitas  belum mengakomodir pola tanam Jajar Legowo sehingga perlu dikembangkan metode ubinan untuk pola tanam Jajar Legowo.

 

Berita lengkap dapat didownload disini

Disusun oleh : Herni Susilowati (PBT Madya)



Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)