Keikutsertaan BBPPMBTPH Cimanggis pada Hari Pangan Sedunia ke 41 di Kabupaten Cirebon Jawa Barat

Jum'at, 29 Oktober 2021

Hari Pangan Sedunia 2021 (World Food Day) diperingati setiap 16 Oktober. Peringatan Hari Pangan Sedunia tahun ini menjadi kedua kalinya, ketika negara-negara di dunia masih didera pandemi Covid-19. Sebagaimana diketahui, pandemi telah memicu resesi ekonomi, menghambat akses pangan, dan memengaruhi seluruh sistem pertanian-pangan. Bahkan sebelum pandemi sendiri, kelaparan masih terjadi. Gizi buruk dan jumlah orang kelaparan meningkat di seluruh dunia. Oleh karena itu, tema Hari Pangan Sedunia 2021 yang diangkat oleh Badan Pertanian Pangan PBB (FAO) adalah "Tindakan kita, masa depan kita, untuk produksi, gizi, lingkungan dan kehidupan yang lebih baik". Tema ini menyoroti pentingnya sistem pertanian-pangan berkelanjutan untuk membangun dunia yang lebih tangguh dalam menghadapi masa depan. Tentang sistem pertanian pangan berkelanjutan Sistem pertanian pangan berkelanjutan adalah sistem di mana berbagai makanan yang bergizi, seimbang, dan aman tersedia dengan harga yang terjangkau untuk semua orang. Pada situasi itu tidak ada yang kelaparan atau menderita kekurangan gizi atau obesitas dalam bentuk apa pun. Sistem pertanian pangan berkelanjutan memberikan ketahanan pangan dan nutrisi untuk semua, tanpa mengorbankan basis ekonomi, sosial, dan lingkungan, untuk generasi mendatang. Mereka mengarah pada produksi yang lebih baik, nutrisi yang lebih baik, lingkungan yang lebih baik dan kehidupan yang lebih baik untuk semua. “Hidup kita bergantung pada sistem pertanian pangan. Setiap kali kita makan, kita berpartisipasi dalam sistem. Makanan yang kita pilih dan cara kita memproduksi, menyiapkan, memasak, dan menyimpannya menjadikan kita bagian yang tak terlepas dari sistem pertanian pangan", kata Rajendra Aryal Perwakilan FAO di Indonesia melalui keterangan tertulis. Peran FAO FAO sendiri telah bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia untuk memastikan pembangunan pertanian pangan berkelanjutan. Seperti kerja sama FAO dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) untuk menganalisis sistem pertanian pangan nasional dan memberikan beberapa rekomendasi untuk meningkatkan kapasitas sistem pertanian pangan nasional yang berkelanjutanpada Hari Pangan Sedunia tahun ini mengangkat tema Our Actions are Our Future: Better Production, Better Nutrition, Better Environment and Better Life atau "Tindakan kita, masa depan kita, untuk produksi, gizi, lingkungan dan kehidupan yang lebih baik (four betters)". Tema ini menyoroti pentingnya sistem pertanian-pangan berkelanjutan untuk membangun dunia yang lebih tangguh dalam menghadapi masa depan.

Dunia mengalami kemunduran besar dalam perang melawan kelaparan. Saat ini, lebih dari tiga miliar orang (hampir 40 persen populasi dunia) tidak mempunyai akses terhadap makanan sehat. Sebanyak 811 juta orang kekurangan gizi di dunia dan sebaliknya, 2 miliar orang dewasa kelebihan berat badan atau obesitas karena pola makan dan gaya hidup yang tidak sehat.

FAO telah bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia dan berkontribusi untuk memastikan pembangunan pertanian pangan berkelanjutan di Indonesia. Sejak 2019, FAO bekerja sama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) untuk menganalisis sistem pertanian pangan nasional dan memberikan beberapa rekomendasi untuk meningkatkan kapasitas sistem pertanian pangan nasional yang berkelanjutan.

Dukungan terhadap berdirinya Badan Pangan Nasional yang mengoordinasikan masalah terkait sistem pertanian pangan serta peningkatan kapasitas terkait perencanaan sistem pertanian pangan merupakan bagian dari dukungan FAO kepada BAPPENAS.

Menteri Pertanian memuji ketahanan pangan Indonesia. Dalam perayaan Hari Pangan Sedunia ( HPS ) hari ini (25/10/2021), Mentan mengaku tidak mendengar ada orang yang meninggal karena kelaparan.

"Kita berharap Hari Pangan bertemakan Pertanian Meningkat, Pangan Aman Walaupun di Tengah Pandemi Krisis Global, mampu kita jadikan bagian-bagian dari menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kita kepada semua pihak, khususnya petani yang telah melakukan upaya-upaya yang keras," ucap SYL.

Dia menambahkan, dirinya juga kehilangan kata-kata. Pasalnya, dalam dua tahun ini dunia dilanda dengan dilematis kehidupan dengan kehadiran pandemi Covid-19 yang kelihatannya seperti sesuatu yang baru, tidak punya obat, menghawatirkan, dan membuat waswas dalam semua kehidupan.

"Tidak ada contoh negara yang kita jadikan rujukan paling utama. Bahkan, kita menjadi gamang, seakan persoalan tanpa batas untuk kita solusikan karena hadirnya pandemi yang entah dari mana, dan tidak bisa mendeteksi bentuknya, serangannya dari sebelah mana, membuat semuanya menjadi stagnasi, berhenti," ungkap SYL.
Barangkali, sambung dia, ada beberapa negara yang merasa survive, tetapi semua pejabat, terutama Presiden Joko Widodo, tidak pernah tidur dengan nyenyak menghadapi suasana ini.

"Kalau masih ada pejabat dalam dua tahun ini di tengah kegelisahan Bapak Presiden Jokowi masih bisa menarik napasnya secara lega, dan merasa tentram, saya kira dia kehilangan pijakan sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap jabatan dan negaranya," tegas SYL.
Dia pun bersyukur di tengah kontraksi kehidupan akibat pandemi, pertanian Indonesia mampu menjaga negara dan bangsa ini.

"Pertanian adalah satu-satunya sektor yang terus tumbuh, dan tidak pernah surut, tidak pernah turun, bahkan dia berkontribusi terhadap PDB yang sangat kuat. Tidak saja itu, melampaui batas-batas yang ada bahkan sebelum pandemi Covid-19," terangnya.

Dia meminta agar semua pihak melihat data yang ada, pertanian tumbuh di atas 2,7% terus-menerus. Pernah kita tumbuh 16,4% di PDB 2020, di saat sektor lain tidak bisa tumbuh dengan baik.

"Bahkan tidak hanya itu, kita mampu ekspor. Ekspor kita naik 15,4% di 2020," pungkasnya. (Disusun oleh Roland Hutadjulu, S.P., M.M.)

Google+

Hari Pangan Sedunia 2021 (World Food Day) diperingati setiap 16 Oktober. Peringatan Hari Pangan Sedunia tahun ini menjadi kedua kalinya, ketika negara-negara di dunia masih didera pandemi Covid-19. Sebagaimana diketahui, pandemi telah memicu resesi ekonomi, menghambat akses pangan, dan memengaruhi seluruh sistem pertanian-pangan. Bahkan sebelum pandemi sendiri, kelaparan masih terjadi. Gizi buruk dan jumlah orang kelaparan meningkat di seluruh dunia. Oleh karena itu, tema Hari Pangan Sedunia 2021 yang diangkat oleh Badan Pertanian Pangan PBB (FAO) adalah "Tindakan kita, masa depan kita, untuk produksi, gizi, lingkungan dan kehidupan yang lebih baik". Tema ini menyoroti pentingnya sistem pertanian-pangan berkelanjutan untuk membangun dunia yang lebih tangguh dalam menghadapi masa depan. Tentang sistem pertanian pangan berkelanjutan Sistem pertanian pangan berkelanjutan adalah sistem di mana berbagai makanan yang bergizi, seimbang, dan aman tersedia dengan harga yang terjangkau untuk semua orang. Pada situasi itu tidak ada yang kelaparan atau menderita kekurangan gizi atau obesitas dalam bentuk apa pun. Sistem pertanian pangan berkelanjutan memberikan ketahanan pangan dan nutrisi untuk semua, tanpa mengorbankan basis ekonomi, sosial, dan lingkungan, untuk generasi mendatang. Mereka mengarah pada produksi yang lebih baik, nutrisi yang lebih baik, lingkungan yang lebih baik dan kehidupan yang lebih baik untuk semua. “Hidup kita bergantung pada sistem pertanian pangan. Setiap kali kita makan, kita berpartisipasi dalam sistem. Makanan yang kita pilih dan cara kita memproduksi, menyiapkan, memasak, dan menyimpannya menjadikan kita bagian yang tak terlepas dari sistem pertanian pangan", kata Rajendra Aryal Perwakilan FAO di Indonesia melalui keterangan tertulis. Peran FAO FAO sendiri telah bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia untuk memastikan pembangunan pertanian pangan berkelanjutan. Seperti kerja sama FAO dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) untuk menganalisis sistem pertanian pangan nasional dan memberikan beberapa rekomendasi untuk meningkatkan kapasitas sistem pertanian pangan nasional yang berkelanjutanpada Hari Pangan Sedunia tahun ini mengangkat tema Our Actions are Our Future: Better Production, Better Nutrition, Better Environment and Better Life atau "Tindakan kita, masa depan kita, untuk produksi, gizi, lingkungan dan kehidupan yang lebih baik (four betters)". Tema ini menyoroti pentingnya sistem pertanian-pangan berkelanjutan untuk membangun dunia yang lebih tangguh dalam menghadapi masa depan.

Dunia mengalami kemunduran besar dalam perang melawan kelaparan. Saat ini, lebih dari tiga miliar orang (hampir 40 persen populasi dunia) tidak mempunyai akses terhadap makanan sehat. Sebanyak 811 juta orang kekurangan gizi di dunia dan sebaliknya, 2 miliar orang dewasa kelebihan berat badan atau obesitas karena pola makan dan gaya hidup yang tidak sehat.

FAO telah bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia dan berkontribusi untuk memastikan pembangunan pertanian pangan berkelanjutan di Indonesia. Sejak 2019, FAO bekerja sama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) untuk menganalisis sistem pertanian pangan nasional dan memberikan beberapa rekomendasi untuk meningkatkan kapasitas sistem pertanian pangan nasional yang berkelanjutan.

Dukungan terhadap berdirinya Badan Pangan Nasional yang mengoordinasikan masalah terkait sistem pertanian pangan serta peningkatan kapasitas terkait perencanaan sistem pertanian pangan merupakan bagian dari dukungan FAO kepada BAPPENAS.

Menteri Pertanian memuji ketahanan pangan Indonesia. Dalam perayaan Hari Pangan Sedunia ( HPS ) hari ini (25/10/2021), Mentan mengaku tidak mendengar ada orang yang meninggal karena kelaparan.

"Kita berharap Hari Pangan bertemakan Pertanian Meningkat, Pangan Aman Walaupun di Tengah Pandemi Krisis Global, mampu kita jadikan bagian-bagian dari menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kita kepada semua pihak, khususnya petani yang telah melakukan upaya-upaya yang keras," ucap SYL.

Dia menambahkan, dirinya juga kehilangan kata-kata. Pasalnya, dalam dua tahun ini dunia dilanda dengan dilematis kehidupan dengan kehadiran pandemi Covid-19 yang kelihatannya seperti sesuatu yang baru, tidak punya obat, menghawatirkan, dan membuat waswas dalam semua kehidupan.

"Tidak ada contoh negara yang kita jadikan rujukan paling utama. Bahkan, kita menjadi gamang, seakan persoalan tanpa batas untuk kita solusikan karena hadirnya pandemi yang entah dari mana, dan tidak bisa mendeteksi bentuknya, serangannya dari sebelah mana, membuat semuanya menjadi stagnasi, berhenti," ungkap SYL.
Barangkali, sambung dia, ada beberapa negara yang merasa survive, tetapi semua pejabat, terutama Presiden Joko Widodo, tidak pernah tidur dengan nyenyak menghadapi suasana ini.

"Kalau masih ada pejabat dalam dua tahun ini di tengah kegelisahan Bapak Presiden Jokowi masih bisa menarik napasnya secara lega, dan merasa tentram, saya kira dia kehilangan pijakan sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap jabatan dan negaranya," tegas SYL.
Dia pun bersyukur di tengah kontraksi kehidupan akibat pandemi, pertanian Indonesia mampu menjaga negara dan bangsa ini.

"Pertanian adalah satu-satunya sektor yang terus tumbuh, dan tidak pernah surut, tidak pernah turun, bahkan dia berkontribusi terhadap PDB yang sangat kuat. Tidak saja itu, melampaui batas-batas yang ada bahkan sebelum pandemi Covid-19," terangnya.

Dia meminta agar semua pihak melihat data yang ada, pertanian tumbuh di atas 2,7% terus-menerus. Pernah kita tumbuh 16,4% di PDB 2020, di saat sektor lain tidak bisa tumbuh dengan baik.

"Bahkan tidak hanya itu, kita mampu ekspor. Ekspor kita naik 15,4% di 2020," pungkasnya. (Disusun oleh Roland Hutadjulu, S.P., M.M.)

Google+
berita lain