ANALISIS UJI EFEKTIVITAS BIOSAKA TERHADAP OPT DAN PERTUMBUHAN TANAMAN PADI

Kamis, 01 September 2022

Thumbnails

Revolusi Hijau mengantarkan swasembada beras era Tahun 80-an, yang didukung dengan pertumbuhan industri benih dan sarana produksi sehingga terjadi penyebaran informasi massif dan tingginya adopsi petani. Hal ini berdampak negatif seperti ketergantungan Petani terhadap pupuk dan pestisida tinggi, penggunaan bahan-bahan kimia cenderung berlebihan sehingga menyebabkan tanah sakit seperti yang disimpulkan oleh para ahli.

Untuk itulah perlu adanya inovasi-inovasi baru dan tidak bergantung pada pupuk kimia sesuai arahan Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kemeterian Pertanian, saat memperkenalkan produk  biosaka di Kab. Grobogan Provinsi Jawa Tengah sebagai produk yang dapat memberikan solusi seperti  menghemat biaya produksi, hama dapat di kendalikan, tanah menjadi subur, lingkungan menjadi lebih baik, dan penghasilan petani lebih tinggi. Lebih lanjut Robert Manurung menyatakan bahwa biosaka merupakan elisitor bukan pupuk, yang dapat merangsang atau memberi signal yang positif kepada tanaman, Elisitor dapat menginduksi resistensi tumbuhan. Memberikan signal pada tanaman untuk melakukan reaksi di tubuhnya sehingga memunculkan sel-sel hebat dan hormon-hormon yang bagus untuk pertumbuhan.

Ujicoba penggunaan biosaka bertujuan untuk membuktikan keampuhan pengaruh penerapan Biosaka dalam mengurangi penggunaan pupuk kimia, dengan tetap memperoleh produksi yang diharapkan sepadan jika dengan penggunaan pupuk kimia, dengan kata lain penggunaan biosaka dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia.

Biosaka juga telah dicoba pada berbagai komoditas tanaman pangan (padi, jagung, kedelai), dan komoditas hortikultura (tanaman buah, sayuran serta tanaman hias).

Yang perlu diperhatikan dalam penggunaan biosaka agar hasilnya efektif yaitu pemilihan bahan yang tepat, cara pengaplikasian di pertanaman dan dosis yang tepat. Untuk memperoleh hasil yang maksimal harus terus berlatih untuk dapat meningkatkan  keterampilan dalam memilih bahan, meremas dan mengaplikasikan. Serta jangan lupa berbagilah pada sesama tentang biosaka maka akan semakin mendapat manfaat dan mempercepat tercapainya swasembada dan kesejahteraan petani.

  

  1. Sebagai agens hayati , Trichoderma berpotensi menjaga sistem ketahanan tanaman misalnya dari serangan patogen seperti cendawan patogen.
  1. Jamur dari genus Aspergillus memiliki distribusi yang luas. Habitat ideal untuk jamur ini

adalah jerami dan kompos. Adalah umum untuk menemukannya tumbuh pada sereal yang disimpan dalam kondisi kelembaban dan suhu yang tidak sesuai. Seperti banyak jamur, ia tumbuh pada bahan organik yang membusuk.

  1. Penggunaan agenshayati dalam budidaya pertanian layak untuk dikembangkan secara masif mengingat fungsinya yang mengikuti keseimbangan ekosistem.

Bakteri dilaporkan bisa menekan pertumbuhan patogen dalam tanah secara alamiah, beberapa genus yang banyak mendapat perhatian yaitu Agrobacterium, Bacillus, dan Pseudomonas (Hasanuddin, 2003)

Rekomendasi : Identfikasi Secara Fisiologis dan Molekuler

Uji lanjut untuk mengetahui jenis koloni pada tingkat spesies

Rekomendasi :

Eksplorasi Antioksidan Potensi Tumbuhan

  • Uji lanjut terhadap spesies2 tanaman yang digunakan yang dapat memperlihatkan aktivitas antioksidan yang sangat kuat
  1. Uji lanjut terhadap spesies2 tanaman yang digunakan berdasarkan hasil skrining antioksidannya
  2. Uji dapat dilakukan dengan metode :
  3. Penentuan aktivitas penangkapan radikal bebas
  4. Analisis senyawa fitokimia
  • Data base spesies2 tanaman yang digunakan sebagai bahan aplikasi :

JENIS TUMBUHAN LIAR SEBAGAI BAHAN RAMUAN BIOSAKA

KANDUNGAN SENYAWA

Tanaman Kenikir

  • Memilki kandungan senyawa Flavonoid dan Fenolik
  • Dalam metabolisme, tanaman tidak hanya menghasilkan senyawa primer tetapi juga metabolit sekunder seperti: senyawa fenolik, alkaloid, terpenoid, dan senyawa belerang. Metabolit sekunder ini adalah mekanisme pertahanan melawan hama. Asteraceae (kenikir-kenikiran) adalah keluarga tumbuhan yang dapat ditemukan secara luas, lebih dari 20.000 spesies dan lebih dari 1.100 genus.
    • Anggota Asteraceae mengandung senyawa kimia seperti polifenol, flavonoid, dan seskuiterpen. Asteraceae memiliki keanekaragaman phytochemical yang luas, termasuk piretrum, triterpenoid, saponin, kumarin, dan flavonoid.
    • Penelitian menunjukkan bahwa adanya senyawa fenolik terutama flavonoid menggambarkan aktivitas antioksidan.

Kontributor : Roland Hutadjulu, PBT Muda Balai Besar PPMBTPH

 

 

Google+
Thumbnails

Revolusi Hijau mengantarkan swasembada beras era Tahun 80-an, yang didukung dengan pertumbuhan industri benih dan sarana produksi sehingga terjadi penyebaran informasi massif dan tingginya adopsi petani. Hal ini berdampak negatif seperti ketergantungan Petani terhadap pupuk dan pestisida tinggi, penggunaan bahan-bahan kimia cenderung berlebihan sehingga menyebabkan tanah sakit seperti yang disimpulkan oleh para ahli.

Untuk itulah perlu adanya inovasi-inovasi baru dan tidak bergantung pada pupuk kimia sesuai arahan Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kemeterian Pertanian, saat memperkenalkan produk  biosaka di Kab. Grobogan Provinsi Jawa Tengah sebagai produk yang dapat memberikan solusi seperti  menghemat biaya produksi, hama dapat di kendalikan, tanah menjadi subur, lingkungan menjadi lebih baik, dan penghasilan petani lebih tinggi. Lebih lanjut Robert Manurung menyatakan bahwa biosaka merupakan elisitor bukan pupuk, yang dapat merangsang atau memberi signal yang positif kepada tanaman, Elisitor dapat menginduksi resistensi tumbuhan. Memberikan signal pada tanaman untuk melakukan reaksi di tubuhnya sehingga memunculkan sel-sel hebat dan hormon-hormon yang bagus untuk pertumbuhan.

Ujicoba penggunaan biosaka bertujuan untuk membuktikan keampuhan pengaruh penerapan Biosaka dalam mengurangi penggunaan pupuk kimia, dengan tetap memperoleh produksi yang diharapkan sepadan jika dengan penggunaan pupuk kimia, dengan kata lain penggunaan biosaka dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia.

Biosaka juga telah dicoba pada berbagai komoditas tanaman pangan (padi, jagung, kedelai), dan komoditas hortikultura (tanaman buah, sayuran serta tanaman hias).

Yang perlu diperhatikan dalam penggunaan biosaka agar hasilnya efektif yaitu pemilihan bahan yang tepat, cara pengaplikasian di pertanaman dan dosis yang tepat. Untuk memperoleh hasil yang maksimal harus terus berlatih untuk dapat meningkatkan  keterampilan dalam memilih bahan, meremas dan mengaplikasikan. Serta jangan lupa berbagilah pada sesama tentang biosaka maka akan semakin mendapat manfaat dan mempercepat tercapainya swasembada dan kesejahteraan petani.

  

  1. Sebagai agens hayati , Trichoderma berpotensi menjaga sistem ketahanan tanaman misalnya dari serangan patogen seperti cendawan patogen.
  1. Jamur dari genus Aspergillus memiliki distribusi yang luas. Habitat ideal untuk jamur ini

adalah jerami dan kompos. Adalah umum untuk menemukannya tumbuh pada sereal yang disimpan dalam kondisi kelembaban dan suhu yang tidak sesuai. Seperti banyak jamur, ia tumbuh pada bahan organik yang membusuk.

  1. Penggunaan agenshayati dalam budidaya pertanian layak untuk dikembangkan secara masif mengingat fungsinya yang mengikuti keseimbangan ekosistem.

Bakteri dilaporkan bisa menekan pertumbuhan patogen dalam tanah secara alamiah, beberapa genus yang banyak mendapat perhatian yaitu Agrobacterium, Bacillus, dan Pseudomonas (Hasanuddin, 2003)

Rekomendasi : Identfikasi Secara Fisiologis dan Molekuler

Uji lanjut untuk mengetahui jenis koloni pada tingkat spesies

Rekomendasi :

Eksplorasi Antioksidan Potensi Tumbuhan

  • Uji lanjut terhadap spesies2 tanaman yang digunakan yang dapat memperlihatkan aktivitas antioksidan yang sangat kuat
  1. Uji lanjut terhadap spesies2 tanaman yang digunakan berdasarkan hasil skrining antioksidannya
  2. Uji dapat dilakukan dengan metode :
  3. Penentuan aktivitas penangkapan radikal bebas
  4. Analisis senyawa fitokimia
  • Data base spesies2 tanaman yang digunakan sebagai bahan aplikasi :

JENIS TUMBUHAN LIAR SEBAGAI BAHAN RAMUAN BIOSAKA

KANDUNGAN SENYAWA

Tanaman Kenikir

  • Memilki kandungan senyawa Flavonoid dan Fenolik
  • Dalam metabolisme, tanaman tidak hanya menghasilkan senyawa primer tetapi juga metabolit sekunder seperti: senyawa fenolik, alkaloid, terpenoid, dan senyawa belerang. Metabolit sekunder ini adalah mekanisme pertahanan melawan hama. Asteraceae (kenikir-kenikiran) adalah keluarga tumbuhan yang dapat ditemukan secara luas, lebih dari 20.000 spesies dan lebih dari 1.100 genus.
    • Anggota Asteraceae mengandung senyawa kimia seperti polifenol, flavonoid, dan seskuiterpen. Asteraceae memiliki keanekaragaman phytochemical yang luas, termasuk piretrum, triterpenoid, saponin, kumarin, dan flavonoid.
    • Penelitian menunjukkan bahwa adanya senyawa fenolik terutama flavonoid menggambarkan aktivitas antioksidan.

Kontributor : Roland Hutadjulu, PBT Muda Balai Besar PPMBTPH

 

 

Google+
informasi lain